Tradisi Menyambut Lebaran a la Desa Sumbersewu dengan Adu Sound System

Tradisi Menyambut Lebaran a la Desa Sumbersewu dengan Adu Sound System

Masyarakat Desa Sumbersewu, Kecamatan Muncar, Banyuwangi, Jawa Timur, punya kebiasaan unik untuk menyambut Lebaran, ialah adu sound system yang di ikuti puluhan pemilik sound system yang beberapa besar berasal dari luar kota.

Sound system hal yang demikian di sewa oleh kelompok sosial-kelompok sosial pemuda yang ada disekitar kecamatan Muncar secara swadaya. Harga sewa dapat sungguh-sungguh fantastis, satu set soundsystem disewa sampai harga puluhan juta rupiah.

Satu set sound system yang disewa oleh Pemuda Timur Pasar Komis Bagorejo Kecamatan Srono seumpama. Mereka mengeluarkan dana Rp 30 juta untuk mendatangkan sound system Idola Music dari Blitar.

Ari sumiyandono (31), ketua Pemuda Timur Pasar Komis Bagorejo Kecamatan Srono, Kamis (14/6/2018) lalu, mengatakan uang untuk menyewa sound system hal yang demikian didapatkan secara urunan dari 30 member kelompok sosial. Rata rata mereka mendonasi antara 700 ribu rupiah hingga 1 juta rupiah.

“Uang sebanyak itu dikumpulkan selama setahun secara iuran. Jadi seandainya ada yang punya uang disetorkan ke petugas keuangan. Ada yang Rp 50 ribu malah Rp 10 ribu . Semuanya di catat hingga terkumpul 30 juta. Jika ada member yang nggak punya uang ya nggak kami paksa,” kata Ari.

Berdasarkan ia, ada member mereka yang rela tak beli pakaian Lebaran supaya dapat turut mendonasi. “Malahan ada yang jual ayam peliharaan,” kata Ari sambil mengakak.

Komunitasnya menyewa sound system Idola dari Blitar semenjak 3 tahun lalu. Pada tahun pertama dan kedua harga sewa Rp 28 juta dan pada tahun 2018 ini biaya sewa naik jadi Rp 30 juta.

“Semenjak pertama nyewa di sound Idola Blitar. Kami bisa satu set mulai dari truk puso, satu set sound system malah lighting. Mereka tiba di Banyuwangi tiga hari sebelum Lebaran. Nginap di rumah warga,” ujar Ari.

Dia mengatakan, komunitasnya sengaja turut aktivitas adu sound sebab kesenangan dan hobi. Aktivitas hal yang demikian juga untuk menyatukan buah hati-buah hati muda di kawasan Muncar.

“Sesudah adu sound, malamnya kami takbir keliling mengaplikasikan sound itu dan seluruh member turut takbiran, ” terang Ari.

Adu sound system hal yang demikian diawali siang sampai petang hari. Masing masing truk memutar musik secara bergantian diiring sorak sorai para penyokong.

Ribuan orang juga berkumpul di tengah lapangan sementara puluhan truk hal yang demikian diparkir mengitari lapangan yang berada ideal di tengah desa Sumbersewu Muncar.

“Tak ada yang menang dan keok. Ini bukan pertandingan, buat bersuka ria-bersuka ria saja. Melainkan umumnya jika di sini diliat baik nanti banyak yang pesan,” kata Andi Wahyu Prasetyanto (28), pemilik sound system Idola Blitar. Andi membawa 12 krus, dan satu truk puso yang berisi 40 unit subwoofer, midhigh sebanyak 16 unit dan lowhigh 4 unit.

Kecuali itu sebuah truk puso sepanjang 8 meter dan setinggi 4 meter yang dilengkapi dengan metode pencahayaan yang dinyalakan dikala takbir keliling malam hari.

“Energi sound kami 165 ribu watt dan dapat didengar hingga radius 7 kilometer,” terang Andi.

Ia mengatakan, selama tiga tahun terakhir turut acara adu sound system dan disewa oleh kelompok sosial Pemuda Timur Pasar Komis Bagorejo Kecamatan Srono.

Kecuali sebab disewa, kedatangannya ke acara itu juga untuk kancah silaturahmi dengan para pemilik sound system di Jawa Timur.

“Hampir beberapa besar yang disewa berasal dari luar Banyuwangi. Ada yang dari Sidoarjo, Malang, Surabaya. Seluruh pengusaha sound kumpul di sini,” ujar Andi.

Sesudah adu sound system, mereka akan takbiran sampai tengah malam. Lalu Andi dan krus pulang ke Blitar.

Sementara itu Slamet Riyadi, salah satu panitia aktivitas menerangkan kebiasaan takbiran mengaplikasikan sound system telah ada semenjak tahun 1980-an.

Melainkan tradisi mengaplikasikan sound system dengan energi ribuan watt baru ada semenjak tahun 2000-an.

“Dikala aku masih muda tahun 80-an masih mengaplikasikan sound system kecil-kecilan gunakan  gerobak atau kendaraan beroda empat pickup. Melainkan kemudian berubah seperti ini. Masing-masing kelompok sosial pemuda mengeluarkan sound dengan sewa mengaplikasikan uang sendiri,” kata ia.

Dia mengatakan, mereka umumnya keliling takbir sendiri. Sebagian tahun terakhir dikoordinir oleh panitia dan ada sebagian hukum yang mesti di taati seluruh klasifikasi pemuda, salah satunya yakni selama takbiran keliling cuma diperkenankan memutar takbir tak boleh musik lain. Kecuali itu para peserta dilarang mengonsumsi minuman keras dan alkohol.

“Kecuali itu dikala malam takbiran suaranya mesti seperempat dari bunyi optimal. Soalnya ada yang hingga kaca rumahnya pecah sebab getaran bunyi. Nah optimal suaranya ya dijalankan di adu sound siang hari ini. Jika ideal malam takbiranhanya diputar perlahan” kata Slamet.

Dia mengatakan dikala malam takbiran, seluruh peserta adu sound yang terdiri dari 40 truk puso akan berkeliling di desa Sumbersewu dan sekitarnya mulai jam 8 malam sampai tengah malam.  bermotor milik warga bagus kendaraan beroda empat dan sepeda motor akan turut mengiringi puluhan truk puso di malam takbiran.

“Lebaran di Desa Sumbersewu ini sungguh-sungguh terasa sekali. Mungkin baru ada di desa sini, malam takbiran dirayakan dengan puluhan sound berbeban ribuan watt,” kata Slamet.

 

Baca Juga: sewa sound system murah