Jangan Perlakukan Anak-Anak Kita Seperti Robot

international school jakarta

Ibu zaman kini yakni generasi yang dikala dalam masa kanak-kanaknya dibesarkan dengan pola asuh punishment dan reward. Amat, sistem mengajar si kecil seperti ini hingga pada era komputerisasi kini juga relatif masih diadopsi.

Impian lumrah memang dikala rasa puas dan berbangga timbul tatkala menyaksikan buah hati berprestasi di sekolah. Puja-puji pada si kecil dikasih dikala dia menjadi ranking satu di kelas, menang pertandingan ceramah Bahasa Inggris, meraih jawara pertama pada pertandingan mewarnai dan sebagainya.

Tak untuk memperhatikan buah hati untuk berprestasi membikin kita pada kesudahannya mengukur sistem persaingan yakni indikator utama dalam memastikan berhasil tidaknya cara kerja pelajaran akademis si kecil.

Tanpa sadar, kita terbius dalam ego yang demikian itu besar dan menciptakan si kecil sebagai obyek yang selalu dituntut untuk berprestasi.

Anak jarang pula ayah dan ibu demikian itu kecewa dikala si kecil tak menempuh sasaran atau mengalami penurunan prestasi.

Ungkapan kekecewaan apalagi seandainya disertai dengan sanksi jasmaniah seperti memukul betis si kecil supaya lebih rajin belajar tentu salah kira.

Si bukanlah robot atau obyek berwujud benda mati yang dapat dibimbing sesuka hati. Si yakni pribadi yang unik dan mempunyai keperluan serta kecakapan yang berbeda-beda.

Sekalipun dikala sang si kecil sukses dan dikasih penghargaan seperti diajak jalan-jalan, dibelikan barang kesukaan sampai diberikan uang saku tambahan, tak serta merta membikin kita mempunyai hak menjatuhkan sanksi tatkala mereka kita anggap gagal.

 

Mengedepankan Semestinya

Sebab diakui, metode pengajaran kita masih mengedepankan persaingan. Memang, kurikulum 2013 telah mengeliminasi metode ranking. Sedangkan pada dasarnya metode rangking lebih banyak imbas negatif ketimbang positifnya.

Ranking secara prinsipil memperlebar lembah pemisah di antara peserta ajar yang beranekaragam. Mereka yang jawara 1, 2, dan 3 atau yang masuk dalam 10 besar diperhatikan sebagai si kecil-si kecil trampil. Selebihnya mungkin dianggap tak trampil atau malahan dicap “bodoh”.

Segala, metode pengajaran kita belum sepenuhnya mengakomodasi keperluan belajar (learning needs) peserta ajar yang pastinya berbeda-beda satu dengan yang lainnya.

Tentu tak fair menempatkan si kecil-si kecil dalam sebuah kasta yang berlandaskan pada skor-skor rapor, sementara di satu sisi mulai sistem mendidik sampai mekanisme pelajaran disamaratakan untuk tiap si kecil.

Baca Juga: sekolah internasional di jakarta

Inilah yang menjadi kritik Albert Einstein, fisikawan cerdik yang pernah berujar, “Everyone is a genius. But, if you judge a fish by its ability to climb a tree, it will live its whole life believing it is stupid.” (Tapi orang yakni cerdik. Sedangkan, seandainya ikan dievaluasi dari kecakapan memanjat pohon, ia akan merasa dirinya bodoh sepanjang hidupnya)

Saya perankingan ditiadakan, demikian itu banyak pola-pola persaingan yang digunakan di lingkungan sekolah dan menjadi unggulan ayah dan ibu malahan pihak sekolah sendiri.

Sebagai teladan yakni kancah Olimpiade Sains Nasional (OSN). Tak tak pada posisi mengharamkan OSN dan persaingan-persaingan lain sejenis itu.

Yang menjadi perhatian aku yakni dikala persaingan seperti itu menjadi betul-betul diagung-agungkan dan diwujudkan indikator berhasil tidaknya seorang si kecil dalam ranah akademis.

Anak jarang ayah dan ibu sebegitu ambisiusnya supaya si kecilnya jawara sehingga memerintah si kecil memforsir belajar dan mencontoh les-les atau tuntunan belajar di luar sekolah.

Memang, pada satu sisi si si kecil akan menjadi lebih rajin dan intens meningkatkan kecakapannya. Maka, di ketika yang beriringan terwujud juga karakter negatif seperti tekad yang berlebihan sampai menganggap saingan, yang juga si kecil-si kecil sekolah, sebagai musuh yang semestinya ditumbangkan.

Dalam persaingan, seorang si kecil akan menganggap peserta lainnya sebagai penghambat bagi dirinya menuju kemenangan. Bila, seluruh kompetitior semestinya harus untuk ditaklukkan sedangkan dalam kesehariannya mereka bersahabat.

Pengajaran menang, si si kecil akan merasa berbangga dan mungkin tak memperhatikan perspektif lawannya yang keok dan sedih sebab upaya berlatih yang keras tak membuahkan hasil.

Sebaliknya, apabila keok, perasaan kecewa berat, apalagi seandainya selama ini senantiasa meraih prestasi, dapat berpengaruh pada penurunan motivasi belajar.

Acap dengan metode persaingan, apabila tak terlalu kasar, boleh aku ucap sebagai wujud diskriminasi yang dibalut dalam tatanan akademis. Dalam persaingan dan kancah pertandingan, cuma aka nada dua sisi yang timbul: menang dan keok, jawara dan tak jawara.

Sedangkan tampak terang perlakuan berbeda pada si kecil-si kecil yang berprestasi di sekolah dengan yang tak. Label “trampil”, ” cerdas”, ” hebat” akan disematkan pada mereka yang mempunyai prestasi baik.

Lalu, yang prestasi akademisnya buruk dan menduduki ranking-rangking bawah dianggap “bodoh”, “malas” dan sebagainya. Segala dapat saja mereka lebih bertalenta pada bidang seperti olahraga atau musik.

 

Mengurangi Pemberlakuan

Ketika penghargaan dan sanksi berkaitan ketika si kecil berprestasi atau gagal berprestasi juga tak sepenuhnya pas. Memang dalam kaidah dasar teori tingkah laku sosial (social behavior) kedua elemen ini cukup penting dalam penyusunan kepribadian.

Tapi perilaku seseorang menerima penguatan (reinforcement), karenanya dia akan cenderung mengulangi perilaku itu.

Sebaliknya, dikala perilaku itu ditanggapi dengan sanksi (punishment), karenanya yang bersangkutan akan cenderung menghentikan perilaku itu. Harapannya dengan adanya reward si kecil akan konsisten rajin belajar, dan punishment akan membikin si kecil sadar supaya tak malas-malasan.

Sedangkan, konsisten saja ada sisi negatif dari kedua sistem ini. Dengan adanya reward mental si kecil akan ditempa untuk berperilaku sesuatu sebab ada imbalan.

Sehingga niat belajar bukan tumbuh sebab harapan sendiri dan kesadaran akan pentingnya meningkatkan ilmu yang telah didapat. Kemauan demikian dengan punishment.

Segala untuk belajar sebab adanya sanksi justru membikin si kecil akan dibalut dengan rasa takut. Belajar sebab rasa takut tak akan pernah tepat sasaran menggali potensi besar dalam diri seorang si kecil.

Reward dan punishment berdasarkan sebagian penelitian (dikabarkan dari The New York Times) mengurangi semangat natural dalam diri manusia dan senantiasa diasosiasikan dengan dengan menurunkan kreativitas.

Embel-embel hadiah atau penghargaan dikala sukses menjalankan sebuah profesi atau sanksi seandainya profesi itu tak terpenuhi pantas permintaan menciptakan kedua elemen ini sebagai paradigma yang semestinya ditinggalkan.

Mengutip dari salah satu film India The Three Idiots, manusia semenjak dalam kandungan telah menghadapi persaingan. Dari jutaan air mani, cuma ada satu yang sukses membuahi sel telor sampai berkembang menjadi manusia.

Artinya, dalam konteks pengajaran mekanisme persaingan jangan diwujudkan standar utama. Negara seperti Finlandia menjalankan gebrakan besar dengan beralih pada kolaborasi yang memungkinkan tiap individu membatasi peranan pantas bakatnya.

Tapi punya andil dalam keunikan masing-masing. Bila bisa dipandang alangkah hebatnya pengajaran di sana.

Mereka tak mendewakan pertandingan. Tapi berkeinginan dibandingi, mungkin perolehan medali emas si kecil-si kecil Indonesia dalam persaingan ilmiah internasional boleh jadi lebih banyak dari mereka.

Sedangkan, dengan metode kolaborasi ini, si kecil-si kecil diperbolehkan saling melengkapi dan menempuh tujuan secara bersama-sama via serangkaian cara kerja.  perlu reward ataupun punishment sebab belajar telah betul-betul dirasakan sehingga semangat untuk itu memang telah tertanam tanpa embel-embel lain.

 

Baca Juga: international school jakarta