Tata Cara Menata Ruang Kota

Kota merajut berjenis-jenis kepentingan yang timbul dalam wajahkontestasi ruang. Wajah kotamerepresentasi gagasan dan persepsi yang bersinergi, berdampingan, ataupun yang mewujudkan perselisihan di dalam absensinya. Itu ungkap N. John Habraken, profesor arsitektur Massachusetts Institute of Technology (MIT), yang bukan kebetulan lahir di Bandung, delapan dekade silam. – jual apartemen kebon jeruk

Gagasan kota yang disusun oleh inspirasi kapitalisme-liberalisme memperlihatkan kontestasi ruangnya pada metode pasar. Permintaan (demand) dan penawaran (supply) betul-betul memberi pengaruh kontestasi ruang kota hal yang demikian.

Kota diukur oleh kebanyakan masyarakat kita mempunyai utility lebih dari desa. Tidak ayal pertumbuhan populasi di perkotaan Indonesia termasuk yang tertinggi di dunia. Urbanisasi terus melaju. Menteri Keuangan Sri Mulyani pada Maret lalu di Jakarta menyebut, angka pertumbuhan populasi di perkotaan Indonesia 4,1 persen. Persentasi ini lebih tinggi diperbandingkan India yang cuma 3,1 persen. Malahan, Tiongkok yang berada pada 3,8 persen.

Kesudahannya, kota kemudian menjadi penuh sesak. Data menampakkan, 18 juta dari 21 juta kans kerja tercipta pada perkotaan di Indonesia, pada jangka waktu 2001-2011.

Utility kota memunculkan kemauan, dan pada gilirannya akan memerlukan permintaan. Sebaliknya, kelangkaan ruang mendukung para pemangku kepentingan untuk memanfaatkan kelangkaan itu dengan sistem memasarkannya, sehingga kelangkaan memunculkan penawaran. Sementara, jumlah ruang yang tersedia mempunyai keterbatasan.

Menghadapi keadaan semacam itu pemangku kepentingan di kota menjalankan efisiensi ruang. Efisiensi hal yang demikian akan menambah skor penawaran ruang. Untuk meningkatkan penawaran ruang, pemangku kepentingan kota sering menjalankan penekanan pada klasifikasi-klasifikasi masyarakat marjinal kota, yang tak berkapital, dan memberikan ruang pada pemilik kapital besar.

Ruang-ruang hidup penduduk miskin sebisa mungkin dipersempit. Relokasi warga miskin kota dilaksanakan ke rumah-rumah susun. Kemudian pada daerah-daerah hasil penggusuran itu dibangun gedung-gedung megah, hotel, apartemen, dan fasilitas jasa hiburan lainnya yang dianggap memiliki skor lebih.

Pada tahap permulaan, relokasi warga ke rumah susun difasilitasi dengan penggratisan rumah susun yang baru menjadi huniannya. Tetapi, pada masa tertentu berikutnya mereka dikenai bobot tarif. Keadaan ini menjadi bobot baru bagi masyarakat miskin kota. Padahal, di daerah rumah susun itu mereka kebanyakan tak cakap lagi mencari uang selancar umumnya. Sehingga ruang hidup warga kian terjepit.

 

 

Baca Juga : Jual Apartemen Jakarta Barat