Digadang Gantikan Monorel, Proyek LRT Yang Kurang Ok

Jadi status pengembangan transportasi di Jakarta; proyek monorel telah dihentikan, MRT sedang berupaya diatasi, dan LRT terancam mandek sebab problem dana. Haduh pasti pusing ya pemerintah! Melainkan sebetulnya apa sih bedanya LRT, MRT, dan monorel yang menggunakan bahan baku besi siku? Apa bedanya pula dengan KRL? Sama-sama berjalan di atas rel ‘kan? Segala-seluruh dicoba dibangun melainkan hingga kini baru KRL saja yang berfungsi. Sesungguhnya mana sih yang paling sesuai untuk Jakarta?

LRT ialah kereta api ringan yang telah banyak dipakai oleh negara lain sebagai transportasi kota yang padat penduduknya. LRT dapat dioperasikan di jalan raya bersama kendaraan lainnya maupun di trek sendiri seperti lintasan layang. Meskipun Mass Rapid Transit (MRT) bertujuan untuk mengangkut penumpang secara massal dan umumnya beroperasi di bawah tanah.

Ketika ini transportasi massal berbasis rel yang telah beroperasi di DKI Jakarta ialah Kereta Rangkaian Listrik (KRL). Bagus MRT, LRT, dan KRL, sama-sama memanfaatkan kekuatan listrik. Melainkan tidak seperti KRL yang dikerjakan oleh masinis, MRT dan LRT dapat berjalan tanpa masinis. Dari segi besar gerbong, MRT sama dengan KRL ialah 3,2-3,5 meter. Sementara LRT lebih kecil ialah 2,7-2,8 meter. Wujud yang lebih ramping ini membikin LRT lebih leluasa mengelilingi Jakarta yang dipadati oleh gedung-gedung tinggi. – https://solusibaja.co.id/produk-produk-besi-baja-dan-logam/plat-bordes-chekered-plate/

Simulasi konsepnya simpel. MRT sebagai kendaraan besar akan beroperasi di ‘jalan-jalan besar’, sementara penumpang yang berasal di tempat-tempat lebih kecil akan diantarkan oleh LRT. Sebab itulah, dari segi kapasitas penumpang, LRT juga jauh di bawah MRT. Dalam sekali angkut, MRT yang terdiri dari 6 gerbong dapat membawa lebih dari 1.500 penumpang. Sementara LRT terdiri dari 3 gerbong yang masing-masing dapat mengangkat optimal 390 penumpang. Apabila MRT dijadwalkan melintas tiap 5 menit sekali, LRT diinginkan dapat datang tiap 2-3 menit sekali.

Kereta besar seperti MRT dan KRL, tanpa gangguan sinyal maupun gangguan-gangguan lainnya, punya kecepatan yang tinggi, ialah dapat menempuh 100/jam. Apalagi MRT mempunyai lintasan sendiri di bawah tanah maupun lintasan layang. Sementara si adik bungsu, biasanya mempunyai kecepatan antara 30-40 km/jam. Melainkan ada juga berita yang menceritakan LRT Jakarta dapat menempuh kecepatan 80 km/jam. Jadi, untuk tahu pastinya, kita tunggu saja nanti berapa lama perjalanan yang diperlukan dari Bekasi ke Jakarta.

Untuk ketika ini MRT sedang dipersiapkan untuk dua trayek, ialah Lebak Bulus – Bundaran HI dan Bundaran HI – Kampung Bandan. MRT sementara akan dikonsentrasikan untuk tempat DKI Jakarta saja. Sementara LRT mempunyai jangkauan lebih jauh, ialah hingga Bekasi dan Bogor. Hal ini dikarenakan kedua kota satelit hal yang demikian menjadi penyumbang terbesar banyaknya pekerja di Jakarta. Pembangunan LRT ini sekalian juga upaya pemerintah untuk mengurai kemacetan Jakarta yang kian hari kian membikin edan saja. – https://solusibaja.co.id/produk-produk-besi-baja-dan-logam/wire-mesh-wiremesh/

Sesungguhnya LRT yakni kelanjutan dari proyek monorel Jakarta yang ditolak oleh gubernur incumbent Jakarta sebab lokasi dan teladan depo yang diajukan oleh pengembang tak layak dengan anjuran Kementerian Proses Biasa. Meski pembangunan LRT mulai dari nol, melainkan pemerintah akan konsisten memanfaatkan apa yang telah dibangun untuk monorel. Dengan demikian itu, tiang-tiang pancang yang terbengkalai di sepanjang jalan H R Rasuna Said dan Jalan Asia Afrika itu akibatnya terang nasibnya. S

Baca Juga : Harga Besi Beton