Tata Cara Menata Ruang Kota

Kota merajut berjenis-jenis kepentingan yang timbul dalam wajahkontestasi ruang. Wajah kotamerepresentasi gagasan dan persepsi yang bersinergi, berdampingan, ataupun yang mewujudkan perselisihan di dalam absensinya. Itu ungkap N. John Habraken, profesor arsitektur Massachusetts Institute of Technology (MIT), yang bukan kebetulan lahir di Bandung, delapan dekade silam. – jual apartemen kebon jeruk

Gagasan kota yang disusun oleh inspirasi kapitalisme-liberalisme memperlihatkan kontestasi ruangnya pada metode pasar. Permintaan (demand) dan penawaran (supply) betul-betul memberi pengaruh kontestasi ruang kota hal yang demikian.

Kota diukur oleh kebanyakan masyarakat kita mempunyai utility lebih dari desa. Tidak ayal pertumbuhan populasi di perkotaan Indonesia termasuk yang tertinggi di dunia. Urbanisasi terus melaju. Menteri Keuangan Sri Mulyani pada Maret lalu di Jakarta menyebut, angka pertumbuhan populasi di perkotaan Indonesia 4,1 persen. Persentasi ini lebih tinggi diperbandingkan India yang cuma 3,1 persen. Malahan, Tiongkok yang berada pada 3,8 persen.

Kesudahannya, kota kemudian menjadi penuh sesak. Data menampakkan, 18 juta dari 21 juta kans kerja tercipta pada perkotaan di Indonesia, pada jangka waktu 2001-2011.

Utility kota memunculkan kemauan, dan pada gilirannya akan memerlukan permintaan. Sebaliknya, kelangkaan ruang mendukung para pemangku kepentingan untuk memanfaatkan kelangkaan itu dengan sistem memasarkannya, sehingga kelangkaan memunculkan penawaran. Sementara, jumlah ruang yang tersedia mempunyai keterbatasan.

Menghadapi keadaan semacam itu pemangku kepentingan di kota menjalankan efisiensi ruang. Efisiensi hal yang demikian akan menambah skor penawaran ruang. Untuk meningkatkan penawaran ruang, pemangku kepentingan kota sering menjalankan penekanan pada klasifikasi-klasifikasi masyarakat marjinal kota, yang tak berkapital, dan memberikan ruang pada pemilik kapital besar.

Ruang-ruang hidup penduduk miskin sebisa mungkin dipersempit. Relokasi warga miskin kota dilaksanakan ke rumah-rumah susun. Kemudian pada daerah-daerah hasil penggusuran itu dibangun gedung-gedung megah, hotel, apartemen, dan fasilitas jasa hiburan lainnya yang dianggap memiliki skor lebih.

Pada tahap permulaan, relokasi warga ke rumah susun difasilitasi dengan penggratisan rumah susun yang baru menjadi huniannya. Tetapi, pada masa tertentu berikutnya mereka dikenai bobot tarif. Keadaan ini menjadi bobot baru bagi masyarakat miskin kota. Padahal, di daerah rumah susun itu mereka kebanyakan tak cakap lagi mencari uang selancar umumnya. Sehingga ruang hidup warga kian terjepit.

 

 

Baca Juga : Jual Apartemen Jakarta Barat

 

Melanjutkan Sekolah Yang Lebih Tinggi

Sesudah lulus sarjana, terdapat sebagian opsi apakah akan melanjutkan S-2 atau tak. Tetapi, rupanya terdapat sebagian manfaat sekiranya kita melanjutkan sekolah ke tahap yang lebih tinggi lagi, seperti melanjutkan ke tahap S-2.

1. Meningkatkan prospek karier tamatan

Seseorang dengan gelar pascasarjana akan lebih nampak dibandingi dengan tamatan sarjana. Hal ini sebab tamatan pascasarjana memiliki pengetahuan yang lebih banyak dibandingi dengan tamatan sarjana. Dengan potensi ini, kemungkinan untuk menerima gaji yang lebih tinggi cukup besar. Kau juga dievaluasi lebih profesional ketika telah melanjutkan sekolah S-2. Ketika sepatutnya berkompetisi dengan tamatan sarjana, tentu kau akan lebih dipertimbangkan untuk posisi yang lebih tinggi.

2. Kalau telah berprofesi, karier kau akan naik tingkat

Kau akan mendapatkan promosi lebih kencang ketika lulus pada tahapan pascasarjana. Kesanggupan kau telah tak dapat dianggap sepele lagi. Dengan metode ini, bagi kau yang telah berprofesi bisa menonjolkan terhadap bos bahwa kau benar-benar serius kepada kemajuan karier hal yang demikian.

3. Investasi pengembangan diri sendiri

Ini yakni manfaat tak dapat diremehkan. Dengan gelar pascasarjana, kau bisa memaksimalkan keterampilan yang akan mendorong dalam kehidupan sehari-hari, seperti manajemen waktu, meneliti, presentasi dan keterampilan menulis. Tetapi, hal ini tergantung pada bidang keahlian kau. Kau bisa berprofesi sama dengan orang-orang yang juga mempunyai latar belakang pengajaran yang sama.

Pertanyaan-pertanyaan hal yang demikian mungkin akan susah dijawab, malahan kau mungkin akan menyadari bahwa diri kau memang tak yakin dengan kecakapan dan keberhasilan sejauh ini. – international school di jakarta selatan

Ingatkan diri kau untuk tak keluar dari area nyamanmu kalau memang tak sanggup, jangan terlalu dipaksakan. Sebuah kwalitas seseorang tak bisa dinilai dengan angka namun dengan kesanggupannya.

“Aku cukup merasa cemburu dikala segala sahabat aku menerima tawaran profesi di depan aku, dan itu menjadi bobot dalam kekerabatan kami. Sebab aku merasa aneh berbincang-bincang perihal kehidupan sesudah lulus. Aku menyadari bahwa aku terlambat untuk mencari profesi dibandingi sahabat-sahabat aku,” ujar Mahasiswa tamatan dari Rowan University, New Jersey, Amerika Serikat, Jo.

Jo mengucapkan bagaimana perasaannya dikala sahabat-sahabatnya menonjol lebih berhasil dengan profesi yang baru mereka temukan, namun seperti yang ia katakan, ia menyadari bahwa memang itu kekeliruan dari diri sendiri sehingga dia tak boleh merasa cemburu.

 

 

Klik Juga : http://www.ichthusschool.com/our-campus

 

CPNS Tahun Ini Banyak Pendaftar Sebagai Guru dari Berbagai Mata Pelajaran

cambridge curriculum

Pemerintah, via Kementerian PAN-RB, secara sah sudah mengumumkan formasi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) tahun 2018. Sempurna formasi yang tersedia untuk diperebutkan oleh pelamar berjumlah 238.015 yang terdiri dari 51.271 Instansi Sentra (76 Kementerian/institusi) dan 186.744 (525 Instansi Tempat).

Beberapa besar dari formasi itu disediakan untuk guru. Ada 88 ribu formasi untuk guru kelas ataupun mata pembelajaran via formasi Instansi Tempat. Angka ini belum termasuk 12.000 formasi guru madrasah yang dibuka via Kementerian Agama.

Angka ini memang belum sebanding dengan keperluan jumlah guru PNS di lapangan. Mendikbud Muhadjir Efendy pernah mempersembahkan bahwa kekurangan guru PNS di sekolah negeri hampir meraba angka satu juta orang.

Meski demikian formasi guru yang menempuh angka 100.000 ini dapat menjadi oase bagi kekurangan guru yang terjadi selama ini.

Kekurangan guru berdampak secara seketika kepada capaian mutu pengajaran. Kwalitas pengajaran yang rendah menyebabkan rendahnya mutu sumber energi manusia (SDM).

Di tengah perkembangan era disrupsi dan revolusi industri 4.0, SDM bermutu rendah tak mungkin mempunyai energi saing yang tinggi.

Baca Juga: cambridge curriculum

Ini dapat menjadi sinyal bahaya bagi perkembangan masa depan bangsa dan negara di tengah percaturan global, terutamanya menghadapi era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).

Dalam konteks ini, pengangkatan CPNS guru dapat menjadi solusi. Minimal solusi rentang pendek dengan tertutupnya kekurangan guru. Selama ini kekurangan guru ditutup oleh eksistensi guru honorer.

Melainkan, dikarenakan perhatian yang rendah dari pemerintah, guru honorer tak mempunyai kesejahteraan yang memadai untuk berprofesi secara profesional. Sebaliknya kesejahteraan guru honorer ini benar-benar memprihatinkan.

Mereka mempunyai bobot kerja yang sama dengan guru PNS, melainkan tak menerima apresiasi yang setimpal dengan pekerjaannya. Walhasil penyelenggaraan pengajaran menjadi jauh dari keinginan.

Ada prasyarat yang semestinya dipenuhi supaya pengangkatan 100.000 CPNS dapat menjadi keinginan baru untuk mendongkrak kwalitas pengajaran.

CPNS guru yang lolos seleksi semestinya mempunyai kompetensi yang diperlukan pada ketika ini sampai puluhan tahun ke depan. Guru yang diperlukan ialah guru yang kapabel mengajar generasi yang tinggal di tengah perkembangan era disrupsi dan revolusi industri 4.0.

Ketika ini terjadi kesenjangan yang luar awam antara SDM guru dengan karakteristik peserta ajar. Guru dan peserta ajar mempunyai karakteristik di masa yang benar-benar berbeda.

Rata-rata guru PNS yang masih aktif ketika ini yakni generasi X yang lahir antara tahun 1961-1980. Generasi X mendapat pengalaman pengajaran dari generasi Baby Boomers yang cenderung kolot, antikritik, dan belum mengetahui teknologi berita.

Meski hidup dan berkembang di era generasi X, dampak para pengajar Baby Boomers terekam benar-benar kuat dalam metode berdaya upaya dan bertingkah guru-guru generasi X.

Mereka masih akrab dengan pola pikir pelajaran lama yang cenderung berkonsentrasi pada guru, berbasis konten, dan tekstual.

Pola pikir ini bertolak belakang dengan karakteristik generasi yang sedang mencapai pengajaran ketika ini. Mereka ialah generasi yang lahir sesudah tahun 2010. Para pakar psikologi sosial menyebutnya sebagai generasi A (Alpha).

Mereka telah bersentuhan dengan teknologi canggih semenjak lahir, mempunyai pola pikir terbuka, transformatif, dan juga inovatif.

Kesenjangan antara pola pikir guru dengan karakteristik generasi yang menjadi peserta didiknya semestinya dipersempit. Bila tak, guru tak akan kapabel memfasilitasi peserta ajar dalam memenuhi keperluan pengajaran mereka.

Aku membayangkan bahwa dalam dunia generasi A ini, buku tak lagi diperlukan dalam cara kerja pelajaran. Mereka tak akan dapat membaca buku yang berupa lembaran-lembaran kertas yang berjilid-jilid.

Mereka akan lebih menyenangi membaca aplikasi buku elektronik yang berisi jaringan dengan bermacam-macam berita yang diperlukan secara pesat dan bermacam-macam.

Sementara, guru dituntut supaya kapabel membentuk buku elektronik, membikin variasi aplikasi pelajaran, serta mendesain pelajaran dalam jaringan (daring).

Guru yang kapabel memfasilitasi tuntutan karakteristik generasi A inilah yang diperlukan. Guru tak cuma dituntut untuk merubah pola pikir dirinya sendiri, melainkan semestinya meningkatkan kesanggupannya supaya mempunyai kompetensi yang layak dengan tuntutan belajar generasi A.

Guru seperti inilah yang semestinya diciptakan dalam seleksi CPNS tahun ini dan tahun-tahun ke depan.

Diterapkannya cara daring dalam registrasi serta pengaplikasian Computer Assisted Test (CAT BKN) dalam proses Seleksi Kompetensi Dasar (SKD) dan Seleksi Kompetensi Bidang (SKB) minimal menjadi filter permulaan.

Ketika ini tak sedikit guru yang masih gagap teknologi. Realitas ini bisa diperhatikan pada waktu proses Uji Kompetensi Guru (UKG) yang memakai cara daring.

Banyak guru yang merasa kesusahan untuk sekadar mengoperasikan komputer. Pun ada guyonan tiap-tiap kali ada undangan aktivitas peningkatan kompetensi yang mengharuskan membawa komputer jinjing, guru-guru berseloroh, “Yang penting dapat membuka (meski tak dapat mengoperasikan).”

Lewat pemfilteran dengan memakai registrasi daring dan CAT, minimal guru yang terjaring mempunyai kecakapan teknologi berita dan komputer (TIK) yang memadai.

Kesanggupan dalam merajai teknologi berita menjadi kompetensi dasar yang semestinya dibatasi guru dalam memfasilitasi pelajaran peserta ajar generasi A. Kompetensi dasar ini dapat ditingkatkan dan dimaksimalkan untuk pengembangan pelajaran berbasis TIK yang menjadi keperluan utama generasi A.

Seleksi CPNS guru yakni pintu masuk untuk menerima guru-guru yang bermutu. Lewat cara seleksi yang bermutu, akan terjaring SDM guru yang bermutu pula. Meski demikian pintu masuk ini semestinya ditiru dengan cara pembinaan guru yang bermutu.

Bila tak, benih-benih CPNS yang rata-rata berusia milenial ini akan larut dalam dunia birokrasi yang formalistis. Walhasil bukan motivasi penemuan dan transformasi yang dibawa, tapi apatisme yang berdampak buruk kepada daya kerja dan profesionalisme sebagai seorang guru.

 

Sumber: https://www.swa-jkt.com/

Kerjasama Pendidikan 12 Universitas di Indonesia dengan South Alabama University

IB school jakarta

Universitas South Alabama, Amerika Serikat, menjajaki kerja sama dengan 12 perguruan tinggi di Indonesia. Mereka berkeinginan berprofesi sama dalam bidang pengajaran perhotelan dan turisme.

Konsul Jenderal RI di Houston Texas, Nana Yuliana, memimpin tiga orang akademisi dari Universitas South Alabama dan seorang pebisnis dari AS untuk melawat ke Indonesia. Mereka sudah berkeliling ke sejumlah kampus di Pulau Jawa dan Bali untuk meneken nota kesepahaman.

“Kerja sama dengan universitas ini ialah salah satu program kerja kita,” kata Nana dalam sua pers di Resto Padang Natrabu, Jl H Agus Salim, Jakarta Sentra, Selasa (23/10/2018) lalu.

Wakil Presiden Riset dan Pengembangan Ekonomi Universitas South Alabama, Lynne U Chronister, membeberkan pihaknya sudah mengunjungi 12 perguruan tinggi di Indonesia.

Dari jumlah itu, telah ada enam perguruan tinggi yang meneken nota kerja sama pengajaran dengan pihaknya, adalah Universitas Prasetya Mulya, Universitas Atma Jaya, Universitas Udayana, Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Indonesia (UI), dan Universitas Trisakti.

Baca Juga: IB school jakarta

“Kami sungguh-sungguh merasa mahasiswa-mahasiswi di universitas kami akan bisa mengambil manfaat sebagaimana mahasiswa-mahasiswi universitas di Indonesia, sebab mereka akan bisa belajar kultur dan metode pengajaran yang baru,” kata Lynne.

Format kerja sama yang dijalin ialah pertukaran mahasiswa, pertukaran energi pendidik, dan program gelar ganda (double degree) diploma.

“Dengan program perhotelan dan pariwisata, karenanya memungkinkan pengajaran dua tahun di Indonesia dan dua tahun di Universitas South Alabama, dan kita akan mendapatkan dua gelar diploma, satu dari Indonesia dan satu dari Universitas South Alabama. Itu akan menjadi kans yang sungguh-sungguh bagus bagi mahasiswa,” tutur Lynne.

Pertukaran energi pendidik perguruan tinggi diamati Universitas South Alabama sebagai kans yang menguntungkan pihaknya. Ini sebab mereka dapat belajar dari pelbagai perguruan tinggi di Indonesia yang dievaluasinya punya program riset mumpuni.

Universitas South Alabama sendiri masuk dalam ranking kelas menengah dalam skala universitas riset yang diaplikasikan di Amerika Serikat, adalah kategori R2 dalam kategori Carnegie yang dirilis Carnagie Commission on Higher Education.

“Kami sudah ke Bali, dan mereka punya program master pariwisata. Kami tak punya itu, jadi kami berkeinginan supaya mahasiswa kami dapat mencapai pengajaran master di Bali,” tutur Lynne.

Wakil Presiden Asosiasi untuk Kerja Sama Global Universitas South Alabama, Richard W Carter, membeberkan pertukaran pelajar nantinya dapat dicontoh oleh satu sampai dua orang mahasiswa dari tiap-tiap universitas.

Tapi program gelar ganda diinginkan dapat mengakomodasi 10 sampai 20 mahasiswa. Mereka seluruh dapat menerima pengalaman mencapai pengajaran dan pelajaran kultur di dua negara.

“Nota kesepahaman sudah diteken, jabat tangan telah dijalankan, dan kami akan mulai berprofesi membangun kerja sama ini. Kami harap program dapat diawali secepatnya, pada musim gugur akan datang. Itu keinginan kami,” kata Carter.

Mereka mau program pertukaran mahasiswa dan mahasiswa gelar ganda dapat diawali sekitar Agustus 2019. Kerja sama antara pihak KJRI Houston, Universitas South Alabama, dan perguruan tinggi di Indonesia ini juga terjalin berkat upaya mediator Ria M Pribadi dan Ferdinal Winarta dari Affinity International.

Konjen Nana Yuliana mempersilakan terhadap mahasiswa yang antusias meniru gelar ini untuk terus memantau laman sah dan akun Facebook KJRI Houston.

 

Baca Juga: sekolah di BSD

Jangan Perlakukan Anak-Anak Kita Seperti Robot

international school jakarta

Ibu zaman kini yakni generasi yang dikala dalam masa kanak-kanaknya dibesarkan dengan pola asuh punishment dan reward. Amat, sistem mengajar si kecil seperti ini hingga pada era komputerisasi kini juga relatif masih diadopsi.

Impian lumrah memang dikala rasa puas dan berbangga timbul tatkala menyaksikan buah hati berprestasi di sekolah. Puja-puji pada si kecil dikasih dikala dia menjadi ranking satu di kelas, menang pertandingan ceramah Bahasa Inggris, meraih jawara pertama pada pertandingan mewarnai dan sebagainya.

Tak untuk memperhatikan buah hati untuk berprestasi membikin kita pada kesudahannya mengukur sistem persaingan yakni indikator utama dalam memastikan berhasil tidaknya cara kerja pelajaran akademis si kecil.

Tanpa sadar, kita terbius dalam ego yang demikian itu besar dan menciptakan si kecil sebagai obyek yang selalu dituntut untuk berprestasi.

Anak jarang pula ayah dan ibu demikian itu kecewa dikala si kecil tak menempuh sasaran atau mengalami penurunan prestasi.

Ungkapan kekecewaan apalagi seandainya disertai dengan sanksi jasmaniah seperti memukul betis si kecil supaya lebih rajin belajar tentu salah kira.

Si bukanlah robot atau obyek berwujud benda mati yang dapat dibimbing sesuka hati. Si yakni pribadi yang unik dan mempunyai keperluan serta kecakapan yang berbeda-beda.

Sekalipun dikala sang si kecil sukses dan dikasih penghargaan seperti diajak jalan-jalan, dibelikan barang kesukaan sampai diberikan uang saku tambahan, tak serta merta membikin kita mempunyai hak menjatuhkan sanksi tatkala mereka kita anggap gagal.

 

Mengedepankan Semestinya

Sebab diakui, metode pengajaran kita masih mengedepankan persaingan. Memang, kurikulum 2013 telah mengeliminasi metode ranking. Sedangkan pada dasarnya metode rangking lebih banyak imbas negatif ketimbang positifnya.

Ranking secara prinsipil memperlebar lembah pemisah di antara peserta ajar yang beranekaragam. Mereka yang jawara 1, 2, dan 3 atau yang masuk dalam 10 besar diperhatikan sebagai si kecil-si kecil trampil. Selebihnya mungkin dianggap tak trampil atau malahan dicap “bodoh”.

Segala, metode pengajaran kita belum sepenuhnya mengakomodasi keperluan belajar (learning needs) peserta ajar yang pastinya berbeda-beda satu dengan yang lainnya.

Tentu tak fair menempatkan si kecil-si kecil dalam sebuah kasta yang berlandaskan pada skor-skor rapor, sementara di satu sisi mulai sistem mendidik sampai mekanisme pelajaran disamaratakan untuk tiap si kecil.

Baca Juga: sekolah internasional di jakarta

Inilah yang menjadi kritik Albert Einstein, fisikawan cerdik yang pernah berujar, “Everyone is a genius. But, if you judge a fish by its ability to climb a tree, it will live its whole life believing it is stupid.” (Tapi orang yakni cerdik. Sedangkan, seandainya ikan dievaluasi dari kecakapan memanjat pohon, ia akan merasa dirinya bodoh sepanjang hidupnya)

Saya perankingan ditiadakan, demikian itu banyak pola-pola persaingan yang digunakan di lingkungan sekolah dan menjadi unggulan ayah dan ibu malahan pihak sekolah sendiri.

Sebagai teladan yakni kancah Olimpiade Sains Nasional (OSN). Tak tak pada posisi mengharamkan OSN dan persaingan-persaingan lain sejenis itu.

Yang menjadi perhatian aku yakni dikala persaingan seperti itu menjadi betul-betul diagung-agungkan dan diwujudkan indikator berhasil tidaknya seorang si kecil dalam ranah akademis.

Anak jarang ayah dan ibu sebegitu ambisiusnya supaya si kecilnya jawara sehingga memerintah si kecil memforsir belajar dan mencontoh les-les atau tuntunan belajar di luar sekolah.

Memang, pada satu sisi si si kecil akan menjadi lebih rajin dan intens meningkatkan kecakapannya. Maka, di ketika yang beriringan terwujud juga karakter negatif seperti tekad yang berlebihan sampai menganggap saingan, yang juga si kecil-si kecil sekolah, sebagai musuh yang semestinya ditumbangkan.

Dalam persaingan, seorang si kecil akan menganggap peserta lainnya sebagai penghambat bagi dirinya menuju kemenangan. Bila, seluruh kompetitior semestinya harus untuk ditaklukkan sedangkan dalam kesehariannya mereka bersahabat.

Pengajaran menang, si si kecil akan merasa berbangga dan mungkin tak memperhatikan perspektif lawannya yang keok dan sedih sebab upaya berlatih yang keras tak membuahkan hasil.

Sebaliknya, apabila keok, perasaan kecewa berat, apalagi seandainya selama ini senantiasa meraih prestasi, dapat berpengaruh pada penurunan motivasi belajar.

Acap dengan metode persaingan, apabila tak terlalu kasar, boleh aku ucap sebagai wujud diskriminasi yang dibalut dalam tatanan akademis. Dalam persaingan dan kancah pertandingan, cuma aka nada dua sisi yang timbul: menang dan keok, jawara dan tak jawara.

Sedangkan tampak terang perlakuan berbeda pada si kecil-si kecil yang berprestasi di sekolah dengan yang tak. Label “trampil”, ” cerdas”, ” hebat” akan disematkan pada mereka yang mempunyai prestasi baik.

Lalu, yang prestasi akademisnya buruk dan menduduki ranking-rangking bawah dianggap “bodoh”, “malas” dan sebagainya. Segala dapat saja mereka lebih bertalenta pada bidang seperti olahraga atau musik.

 

Mengurangi Pemberlakuan

Ketika penghargaan dan sanksi berkaitan ketika si kecil berprestasi atau gagal berprestasi juga tak sepenuhnya pas. Memang dalam kaidah dasar teori tingkah laku sosial (social behavior) kedua elemen ini cukup penting dalam penyusunan kepribadian.

Tapi perilaku seseorang menerima penguatan (reinforcement), karenanya dia akan cenderung mengulangi perilaku itu.

Sebaliknya, dikala perilaku itu ditanggapi dengan sanksi (punishment), karenanya yang bersangkutan akan cenderung menghentikan perilaku itu. Harapannya dengan adanya reward si kecil akan konsisten rajin belajar, dan punishment akan membikin si kecil sadar supaya tak malas-malasan.

Sedangkan, konsisten saja ada sisi negatif dari kedua sistem ini. Dengan adanya reward mental si kecil akan ditempa untuk berperilaku sesuatu sebab ada imbalan.

Sehingga niat belajar bukan tumbuh sebab harapan sendiri dan kesadaran akan pentingnya meningkatkan ilmu yang telah didapat. Kemauan demikian dengan punishment.

Segala untuk belajar sebab adanya sanksi justru membikin si kecil akan dibalut dengan rasa takut. Belajar sebab rasa takut tak akan pernah tepat sasaran menggali potensi besar dalam diri seorang si kecil.

Reward dan punishment berdasarkan sebagian penelitian (dikabarkan dari The New York Times) mengurangi semangat natural dalam diri manusia dan senantiasa diasosiasikan dengan dengan menurunkan kreativitas.

Embel-embel hadiah atau penghargaan dikala sukses menjalankan sebuah profesi atau sanksi seandainya profesi itu tak terpenuhi pantas permintaan menciptakan kedua elemen ini sebagai paradigma yang semestinya ditinggalkan.

Mengutip dari salah satu film India The Three Idiots, manusia semenjak dalam kandungan telah menghadapi persaingan. Dari jutaan air mani, cuma ada satu yang sukses membuahi sel telor sampai berkembang menjadi manusia.

Artinya, dalam konteks pengajaran mekanisme persaingan jangan diwujudkan standar utama. Negara seperti Finlandia menjalankan gebrakan besar dengan beralih pada kolaborasi yang memungkinkan tiap individu membatasi peranan pantas bakatnya.

Tapi punya andil dalam keunikan masing-masing. Bila bisa dipandang alangkah hebatnya pengajaran di sana.

Mereka tak mendewakan pertandingan. Tapi berkeinginan dibandingi, mungkin perolehan medali emas si kecil-si kecil Indonesia dalam persaingan ilmiah internasional boleh jadi lebih banyak dari mereka.

Sedangkan, dengan metode kolaborasi ini, si kecil-si kecil diperbolehkan saling melengkapi dan menempuh tujuan secara bersama-sama via serangkaian cara kerja.  perlu reward ataupun punishment sebab belajar telah betul-betul dirasakan sehingga semangat untuk itu memang telah tertanam tanpa embel-embel lain.

 

Baca Juga: international school jakarta